Minggu, 17 Oktober 2010

A Beautiful Busy Day :)

Akhirnya, setelah sekiaaaan lama saya update lagi blog ini. Maaf, sampe jamuran begini deh. Berhubung saya udah resmi pindah ke kota Surakarta, dan di sini masih no gadget alias ga ada laptop ataupun komputer, internet pun harus ke warnet yang jaraknya ga sedeket di rumah Grabag yang Cuma tinggal buka pintu samping dan nyebrang halaman sedikit udah sampe.
Malam ini, saya sangat senang sodara-sodara. Walau tugas sudah menunggu untuk dikerjakan dan akhirnya tertunda karena buntu pikirannya, saya masih tetap senang. Karena saya dapet pinjeman laptop dari temen se-kost. Sehingga jari saya bisa nari-nari lagi di atas keyboard. Muhahahahaha.

Hari ini hari Jumat, tanggal... *ngecek kalender di HP, takut salah tanggal lagi* 24 September 2010. Kuliah udah sejak Senin lalu mulainya, jadi sekarang udah full padet kuliah. Memang hari ini jadwal kuliah resminya cuma satu makul, pagi pula. Dari jam 07.00 sampe jam 09.30. Tapi karena dosennya pengertian, liat mahasiswa nya udah pada ngantuk pol-pol an, kuliah PKN pagi ini pun diakhiri jam 09.00.
Abis itu, kami nggak bisa langsung pulang. Masih ada asistensi akuntansi. Ya Salam, sumpah saya benci banget sama akuntansi. Ga ada mudeng-mudengnya, nyantol-nyantolnya di otak. Gila juga saya ambil kuliah ekonomi. Semoga suatu saat saya bisa damai sama yang namanya mas akunt. Amin.
Satu jam asistensi tapi nggak dapet apa-apa, (eh tapi lumayan juga dapet tempat duduk di depan cem-ceman, hihihihi) saya dan teman-teman meluncur ke kantin Poek-We Fakultas Ekonomi. Selesai makan dengan harga Rp 550 dikali 10, saya ke mushola D3 buat asistensi (lagi). Tapi sekarang makulnya agama Islam. Mbaknya mentor ngaret. Ga efektif. Jam setengah 1 selesai, balik lagi ke kantin ngerjain tugas akuntansi. Ujan rintik-rintik, dan lama-lama jadi ujan lumayan deres. Berhenti ngerjain tugas, ketawa-ketawa gara-gara kata tampias, tampu, dan tempias.
Jam 2 siang, pulang ke kos dalam keadaan basah setengah kuyup. Galuh (temen sekelas) ikut ke kos, tapi nggak lama kemudian dia dijemput kakaknya.
Jam setengah 4 sore, saya balik lagi ke kampus, sodara-sodara. Yap. Jadwal saya hari ini padet banget. Kali ini ada pelantikan Young Member HMJM.
Sebenernya surprised banget saya bisa diterima magang di Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen. Jujur, saya waktu screening jawab pertanyaan dari mas-mas yang saya lupa namanya (kita sebut dia MySLN) secara amat sangat ngawur.
MySLN : alasan masuk HMJM ?
Saya : pengen cari pengalaman, cari temen (standard)
MySLN : pengen masuk departemen apa ?
Saya : Enterpreneurship
MySLN : kenapa ?
Saya : pengen belajar jualan
MySLN : jualan apa ?
Saya : ga tau. Pokoknya jualan aja. Berwirausaha gitu. Asal jangan jual diri aja deh.
MySLN : WOAHAHAHAAHA ngawur lu dek. Apa yg membuat kamu pantas diterima magang di HMJM ?
Saya : Apa yaaa ??? *bener-bener kehilangan kata2*
Gini aja ya, masa’ sih orang yang pengen belajar ga bisa diterima ? (nyolot nih saya)
MySLN : *kayaknya bingung bin nggak puas* oh gitu ya. Hmm...

Jawaban selebihnya, saya Cuma ngekor jawaban temen. Serius. Dan ajaibnya saya DITERIMA. Walau saya nggak ditempatin di departemen enterpreneurship, tapi di departemen media. Emang udah takdir nih (atau pilihan ?) kerja bikin majalah.

Pulang jam setengah 6 sore, ujan. Nunggu reda sama Qiqi di teras Gedung 2. Tiba-tiba, di sebelah saya (tapi nggak sebelah persis, agak ke atas gitu) si ‘cem-ceman’ duduk dan melihat ke saya. Aw aw aw. Say hai aja deh saya. Wekekekek. Dia bercanda mulu sama temen gengnya tapi. Huhuhuhu.

Akhirnya, di penghujung hari ini, jam sembilan malam, saya duduk di depan laptop temen, di ruang TV kost, digigitin nyamuk, sesekali si kucing liar tapi bukan tuna wisma lewat, nulis cerita sehari yang indah ini.

At last but not least, I love this day very much <3
Semoga hari esok lebih indah dari hari ini. Good night!


-NB: udah mbahnya jamuran nih posting-

Selasa, 10 Agustus 2010

Teruntuk Kamu, yang Telah Melubangi Hatiku (5 Desperate Days with You)

Teruntuk kamu, yang telah melubangi hatiku.

Malam itu, saat kau membuat lubang besar di hatiku, di kakiku pun ada luka lecet tergaruk. Tidak parah, namun perih. Tidak berlubang seperti hatiku, namun cukup terasa.

Malam itu, tangisan tidak sudi keluar dari bibirku. Air mata hanya mengintip malu-malu di ujung kelopak, tak ingin meluncur jatuh.

Bukan hati ingin menahannya. Hatiku sangat ingin menangis, agar aku lelah, lalu dapat memejamkan mata hingga esok tiba. Tapi aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa.

Malam berikutnya, lubang itu semakin menjadi-jadi. Perih di kakiku semakin terasa.
Lalu aku bertekad.

KETIKA LUKA DI KAKIKU INI MENGERING, MAKA LUKA DI HATIKU JUGA IKUT MENGERING.

Aku meyakininya, karena aku percaya pada kekuatan hatiku sendiri. Memangnya kau pikir apalagi yang bisa aku percaya ?

Hari pertama dan kedua hidup dengan lubang di hati, BURUK SEKALI. Aku belum terbiasa untuk tidak bercerita kepadamu. Setiap melihat hal unik atau apapun dimanapun, selalu kamu yang aku ingat. Aku selalu ingin menceritakan apa yang aku lihat kepadamu. Bagaimana bisa aku menyangkal kalau aku terlalu bergantung padamu?

Hari ketiga. Luka itu MENGHITAM. Luka di hatiku dan luka di kakiku. Aku merasa marah. Benci. Aku benci semuanya (tentu kamu tahu, apa yang aku maksud dengan ‘semuanya’). Aku marah karena aku harus menelan bulat-bulat apa yang aku katakan tentang KEPERCAYAAN. Aku ingat sekali saat kamu mengatakan cintamu, sayangmu, dan seluruh perlakuan lembutmu padaku. Dan aku sangat ingin meludahinya. Aku benar-benar marah dan benci kamu saat itu. Aku benci kenapa cerita klise ini harus terjadi padaku. Aku benci kenapa harus kamu yang melakukan ini padaku. Aku benci. Benar-benar benci.
Aku menyadari satu hal. KAMU adalah orang yang aku cintai dengan tulus. Dan aku tak pernah setengah hati padamu. Mungkin karena itu pula mudah bagiku membencimu. Membenci kamu yang sudah melubangi hatiku. Kamu ingat pepatah ini kan ? perbedaan benci dan cinta itu tipis.

Hari keempat. Aku menemukan orang yang benar-benar tepat untuk tempat bercerita. Dia tahu persis apa masalah kita. Sedikit meringankan bebanku. Lubang itu masih ada, sakit itu masih terasa. Tapi hitam itu mulai memudar.
Namun semuanya masih sama. Selalu kamu yang menjadi topik pembicaraan dan pikiranku. Masih kamu.

Hari kelima, aku sudah tidak ingin membicarakan kamu lagi. Apa hitam itu kembali ?

Tidak.

Cukup sudah bagiku untuk mengenang kamu. Mengenang semua tentang kamu dan aku. Dunia kita, tak mungkin terwujud. Kusimpan semua kenangan itu dengan rapi, dan aku menyegelnya dengan tulisan ini di diary-ku.

"Hari ini aku sudah bisa benar-benar mengikhlaskan ***. Semoga aku konsisten. Aku tersenyum, tulus. Aku senang tahu kalau dia bahagia.
Baru kali ini aku setuju kalau cinta tak harus memiliki.
Baru kali ini aku setuju kalau cinta adalah bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, walau kita tidak ada di sampingnya, dan bukan kita yang membuatnya bahagia.
Selamat tinggal **, berbahagialah. :)"

Ya, aku sudah memaafkan kamu.
Tetaplah jadi sahabatku, tetaplah menjadi tempat aku bertanya, dan tetaplah menjadi pendengarku yang baik. :)

PS : tolong kabari aku kalau kamu sudah membaca tulisan ini.

Jumat, 30 Juli 2010

Percaya ?


Kepercayaan itu bisa diibaratkan kayak pedang bermata dua. Kita beri kepercayaan pada orang yang salah, bakalan jadi masalah. Kita nggak punya kepercayaan sama orang lain... ya mati kubur sendiri aja.

Saya kemarin nonton dorama *drama jepang ^^* judulnya Celeb and Poor. Di sana ada cerita tentang seorang tokoh namanya Gotoda Tsukasa. Dia ini mantan pacarnya tokoh utama, sang seleb Mitazono Alice. Diceritakan kalo Gotoda ini pernah diremehkan sama emak tirinya si Alice, lalu akhirnya dia nggak punya kepercayaan sama orang lain. Dia ngerebut semua perusahaan Alice di hari pernikahan mereka (pernikahannya batal jadinya). Semua tokoh protagonis berusaha merebut kembali harta Alice yang dirampas sama Gotoda, termasuk Sachiko, mantan karyawan Alice yang juga sahabatnya Taro, si miskin tokoh utama. Sachiko pura-pura beralih ke Gotoda, dan dia berhasil jadi asisten pribadi Gotoda.
Si Gotoda ini tanya sama Sachiko :

"Selama ini aku tak pernah percaya pada orang lain. Apa kamu bisa aku percaya?"

Sachiko:

"Ya."

Gotoda percaya sama Sachiko, tapi nggak bener-bener. Dia lebih percaya sama program komputernya untuk melindungi harta rampasan dari Alice. Sachiko tahu, dan dia nge-hack program komputer itu untuk menyelamatkan harta Alice kembali.

Eniwei, yang saya pikirkan, kata2 Gotoda tadi seperti bukan pertanyaan, tapi tuntutan. Tentu aja Sachiko jawab "Ya" padahal dia bisa berkhianat. Memangnya jawaban apalagi yang diharapakan sama Gotoda ?
Kita bicara realita aja ya, yang percayaaa banget sama orang lain aja bisa dikhianatin. Apalagi yang ga percaya sama sekali ?
Jadi harus gimana dong ?

Ikuti kata hatimu :)

Jangan percaya sama orang dengan membabi buta, tapi juga jangan gitu aja ga percaya sama orang. Semua yang berlebihan itu ga baik, bukan ?


AKU PERCAYA KOK

Baca postingan Novil, saya jadi memikirkan sesuatu juga.

Kata-kata AKU PERCAYA KAMU KOK yang berupa tuntutan tersirat juga ada di sini. Anggap saja yang mengatakan AKU PERCAYA KAMU KOK itu si A, dan lawan bicaranya si B. si A berusaha mengendalikan si B dengan kata-kata AKU PERCAYA KAMU KOK itu, karena dia tahu si B nggak bakalan mengkhianati kepercayaannya. Tapi tunggu dulu. menurut saya, (maaf ini penilaian subjektif) si A nggak bener2 PERCAYA sama B. Dia masih menunggu saat2 KEPERCAYAAN palsu itu diruntuhkan oleh B. Dan saat B kesandung, istilahnya, A nggak mau nolong B ataupun ngg... give something positive lah sama B.

Kalo di-translate dengan bahasa sarkastik, AKU PERCAYA KAMU KOK = gue nggak mau tau, pokoknya gue nggak mau lo nglakuin hal itu. kalo lo nglanggar, lo sendiri yang tanggung akibatnya.



Apa yang saya tulis di atas tadi semata-mata opini pribadi saya, mohon maaf kalau ada yang tersinggung...
Kalo anda mau menyanggah, menambahi, ataupun memberi saran, silakan komen di posting ini. Eh, di wall facebook juga boleh :)

See ya. ^^/*

Kamis, 29 Juli 2010

Aku Percaya,

Woohooo
Ga terasa tinggal... ummm... *ngecek kalender di atas komputer* 2 minggu lagi saya resmi jadi anak kos. Pengen rasanya saya cepet2 packing barang2 yang ada di kamar. Just packing aja gitu, tapi ga usah pergi dari rumah... *gimana bisa ???*
Anyway, UI mulai kegiatan maba-nya lebih dulu dibanding UNS. Dan besok, 'dia' bakalan berangkat ke Depok, ke asramanya. Hari Senin lalu 'dia' kesini, untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke tetangganya ibukota negara kita itu. Kita nonton film, ngobrol2, ketawa2... ga mikirin setelah ini kita akan memulai what-we-call-it-LDR. Long Distance Relationship.
Begitu dia udah mau pulang, baru saya inget lagi sama LDR-what-the-hell ini. Dan saya tiba2 mellow. Saya senyum sampai motornya ninggalin halaman rumah saya. Dan setelah itu, nangis.

Was I stupid ? Ini cuma perpisahan sementara, abis lebaran juga ketemu lagi paling nggak. Toh 'dia' masih di Indonesia dan di pulau Jawa, kita ga terpisah oleh samudera dan benua atau apalah itu.
Logika saya emang bilang gitu, tapi perasaan saya berkata lain. Ini berat. buat orang yang selalu bersama kemana-mana, apalagi relationship kita baru 1 tahun, beda cerita dah kalo udah 2 tahun atau lebih. Tapii... saya masih merasa lebay dan alay dengan perasaan ini. Arrrrggghhh.... *garuk2 kepala*
Oke, logika saya menang. Saya emang bodoh. Udah deh ghe, ga usah nangis lagi. Dia ga kemana-mana.

Kemarin malam saya chatting sama 'dia'. Dan 'dia' mengatakan *menuliskan, i mean* kalo dia mau datang ke rumah buat ngembaliin Harry Potter 5 saya yang udah lamaaaa banget dia pinjem. Saya hampir meloncat kegirangan, tapi lalu saya ingat sesuatu dan menulis seperti ini.

"Harpotnya kembaliin kapan2 aja, aku malah kasian sama kamu kalo jauh2 kesini cuma buat ngembaliin harpot gitu."

Bener kan?? gila juga kalo 'dia' beneran mengarungi 20km cuma buat ngembaliin novel tebel yang sebenarnya bisa dikembaliin lain hari, pas kita ketemu.
Saya suruh dia simpen tuh buku, dikembaliin abis lebaran aja, dan dia bilang kalo dia ga bisa nyimpennya. Dia takut buku kesayangan saya itu kenapa2. Dan saya bilang :

"Ah udahlah, toh bukunya udah disampul plastik. Udah nggak apa-apa, asal ga dimakan rayap aja."

dia jawab :

"Kalo dimakan rayap gimana?"

Saya : "Beliin lagi :("
Dia : "Nah itu masalahnya... berat itu."
Saya : "Hahahaha... ga og, cuma bercanda. Aku percaya og sama kamu :)"
Dia : "Bener ? Masa' kamu nggak apa2 buku kamu dimakan rayap ? Apalagi ini Harpot lho" *he knows all of my favorite :)*

Di sini pernyataan saya tadi dipertanyakan.
Sering nggak sih kamu bilang kamu percaya sama orang, tapi sebenrnya kamu nggak 100% percaya sama dia ? Kamu masih diam-diam mencari tahu tentang apa yang dilakukannya tanpa sepengetahuan kamu, pokoknya masih nyelidikin gitu. Belom nglepasin suatu hal dengan ikhlas percaya sama orang.

Akhirnya saya jawab :

"Ya makanya, aku percaya kamu nggak bakalan biarin Harpotku dimakan rayap. Pokoknya disimpen dulu lah."

Agak menjijikkan memang, saya berkelit cari aman untuk menyelamatkan pernyataan saya tadi.

Malam itu, setelah merenungkan pernyataan tadi, saya bikin satu resolusi baru.

Bila aku mengatakan bahwa AKU PERCAYA, maka aku akan mempercayainya, dan tidak ada rasa tidak percaya ataupun curiga sedikitpun.


Sulit memang, jadi orang jujur. Tapi saya sedang mencobanya. :)

Selasa, 06 Juli 2010

Ini Untukmu!

Hey kau!
Kawanku yang paling aneh sedunia
Apa kabarmu sekarang ? Sudah lama sekali kita ga bertemu
Hahahaha. Tentu aja pertanyaan tadi cuma basa-basi
Aku selalu mengikuti kabarmu, kawan.

Heran?

Apa kamu lupa dengan facebook ? You can know everything from that.

Aku tahu apa yang sedang kamu lakukan lewat statusmu.
Aku tahu dengan siapa kamu mengobrol lewat wall-to-wall mu yang muncul di news feed ku, atau komen-komen di statusmu dan status orang lain.

Kamu marah?
Salahin aja si Mark Zuckenberg atau siapa itu bosnya Facebook. Salahin juga diri kamu sendiri karena punya facebook.

Eh, tapi tunggu. Aku tidak pernah dengan sengaja membuka profil kamu untuk tahu activities kamu. Setidaknya bukan kamu yang profilnya aku buka. Jangan ge-er ya.

Hey, kawan,
Kita dulu lumayan dekat ya.
Sebelum jauh seperti sekarang tentunya. Sebelum kamu kenal mereka-mereka itu.

Apa ? Aku cemburu ?

Bukan. Bukan !

Sudah kubilang jangan ge-er!

Memang aku sempat syok waktu kamu punya pacar, tapi toh aku biasa saja akhirnya!

Hey, tau nggak ? itu membuatku sadar lho, bahwa kamu juga normal. Hahaha

Hey kawan, aku mau bikin pengakuan nih,

Kamu duduk saja di situ, dengar baik-baik. Jangan potong kata-kataku ya.


Jujur, aku nggak pernah menginginkan kamu buat jadi milikku. Suer. Buatku kamu itu ya teman. Sahabat. Saudara.
Tapi, setiap ada yang dekat sama kamu, aku merasa nggak enak.
Aku selalu ingin tahu obrolan kalian. Aku selalu mengintip komen status kalian, atau wall-to-wall kalian.
Tidak, tidak. Aku tidak sakit.
Kalau aku ‘sakit’, tentunya obrolan semua orang aku ingin tahu dong. Tapi ini enggak. Cuma KAMU dan DIA.

Kawan,
Aku ingin minta maaf padamu.
Aku hanya ingin kamu tetap seperti ini. Tetap seperti yang aku kenal.
Aku tak punya rasa ingin memilikimu, tapi kenapa aku tak rela kalau orang lain memilikimu ?
Maaf kawan, aku sendiri tak tahu jawabannya.
Pengakuanku selesai. Jangan kerutkan dahimu seperti itu.
Apa aku masih tetap temanmu?

Oke. Terimakasih telah mengangguk. :)

The Power of "I'll be back"

Minggu, 4 Juli 2010

Bicara cinta, memang nggak pernah ngebosenin.
Apalagi jika kita sudah memulai suatu hubungan. Yang namanya cemburu, marah-marahan, romantis-romantisan, pasti selalu ada.

Hanya untuk hal yang sepele, seperti wall atau komen di facebook, bisa menyulut prahara.
Nggak dibales smsnya, juga bisa jadi marahan.
Atau yang lebih sederhana lagi, si pacar bales sms dengan nada agak ketus. Bisa bikin ngambek tuh. Padahal bisa jadi si pacar lagi ngantuk atau sibuk.

Kepercayaan dalam hubungan itu penting, dan yang membangun kepercayaan adalah KOMUNIKASI.
Hubungan tanpa komunikasi, ga bakalan jadi. Bubar deh.

Kemarin, saya bĂȘte banget ga jelas gara-gara si pacar ga bales sms-sms saya.
Dia lagi liburan gitu cing ama keluarganya. Saya berusaha maklum, tapi gejolak remaja saya nggak terima kalo kenyataannya dia lagi asyik sendiri di sana dan lupa sama saya yang kesepian dan mati gaya di rumah.

Akhirnya saya bilang sama dia, saya nggak akan mulai sms dia duluan. Saya tunggu sampe dia sms. Eh udah seharian juga dia ga sms. Tambah gondok.
Akhirnya saya ganti ‘lupain’ dia dulu tadi malam sampai siang ini.
Sampai sebuah wall facebook dari dia, yang singkat, ga jelas, tapi manis.

“I’ll be back!!!”

Saya ga peduli kalo saya norak, lebay, atau plin plan.
Yang jelas, malam ini saya tersenyum, menyadari kalau saya memang sayang sama dia, dan memutuskan untuk mengirim private message “I do love you. :)”.

Yearning on Saturday Morning


Seorang blogger dan penulis favorit saya, Raditya Dika, pernah bilang dalam blognya “tulis apa yang paling kamu rasain sekarang.”
And I’ll do it now.
Saya ngerasa kangen. I miss all of my highschool activity. I miss all of my friends, include my special friend.


Rasa kangen yang kayak gini mah wajar banget buat orang yang nganggur di rumah selama 2 bulan lebih. Dan suatu saat nanti, pas lagi sibuk-sibuknya, pasti saya akan kangen saat-saat sekarang, dimana saya bisa males-malesan semau udel. Dasar manusia. Ga pernah puas.

Anyway, I found the fact about yearning on this Saturday morning.
It same as love.
We can not force it to someone.

Sering kita tanya, “Hey, kamu kangen ga sama aku?”

Jawaban apa yang kita harapkan ? Biasanya kalo si penjawab orangnya hobi menjaga perasaan orang (atau lebih tepatnya di sini ‘berpura-pura’) dia akan jawab “iya, aku juga”.
Dan kita bakalan seneng karena ternyata ada yang merindukan kita.

Nah, sebaliknya, kalo si dia orangnya jujur bin ceplas ceplos, dan dia jawab “enggak tuh.”
What will you do?

Mau marah? Suatu kemarahan yang konyol kalo gitu.

Sama kayak cinta. Kita tetep ga bisa maksain. Kalo orang yang kita taksir ternyata ga ada rasa sama kita, ya udah to ? mau gimana lagi ? You can not force love, pals.

Hei, sama kayak cinta juga, kita ga tau kapan rindu dateng. Biasanya, kalo kita ngerasa kangen meski tiap hari ketemu, bakalan dicemooh sama orang. Dibilang lebay lah, alay lah. Padahal kan terserah kita yah, mo kangen-kangenan tiap hari juga suka-suka dong.

Teman, apa yang terjadi pada rasa rindu yang dibiarkan menguap begitu saja ?
Simpel jawabnya.
Lama-lama jadi biasa.

Ihiy, I found one more fact ! rindu bisa jadi alat penggembleng kita saat kita harus berpisah lama atau mungkin selamanya.
Iya kan, luar biasa dan hebat banget kalau kita bisa menyimpan rasa rindu itu selamanya.

Saat ini, orang special yang sedang saya rindukan itu lagi liburan bareng keluarganya. Saya udah ga ketemu dia selama seminggu, dan minggu depan(it means HARI INI) dia mau ke kota D buat ngurus pondokan kuliahnya. Dan 3 hari setelah dia berangkat, that’s my birthday.
Yeah, mau gimana lagi.
Dulu saya selalu nuntut pacar selalu ada di samping saya pas hari itu. Tapi sekarang mana mungkin ? Biar waktu sajalah yang menjawab.

Sial. Saya denger saxophone nya lee jung sik (OST BBF) malah jadi makin mellow.

Kembali kita membicarakan rindu.
Kalo kita lagi seneng-seneng, kadang kita lupa ada orang yang lagi nungguin kita dengan kesepian di suatu tempat. And damn it happen to me!
Bukan yang lagi seneng2, tapi yang kesepian nungguin orang!

Oke, saya terlalu pengecut buat bilang kalo saya kangen sama dia, dan kesepian tanpa dia. Sungguh, saya males sakit hati begitu tau perasaan dia ga sama kayak saya. Biarlah, saya tunggu aja dia pulang dengan apa adanya. Keep doing my own activity.
Sekali lagi, rindu itu ga bisa dipaksain.



NB: tulisan ini saya buat hari Sabtu tanggal 3 Juli 2010. Mohon maaf ga terlalu up to date, di rumah ga ada koneksi internet sih...