Teruntuk kamu, yang telah melubangi hatiku.
Malam itu, saat kau membuat lubang besar di hatiku, di kakiku pun ada luka lecet tergaruk. Tidak parah, namun perih. Tidak berlubang seperti hatiku, namun cukup terasa.
Malam itu, tangisan tidak sudi keluar dari bibirku. Air mata hanya mengintip malu-malu di ujung kelopak, tak ingin meluncur jatuh.
Bukan hati ingin menahannya. Hatiku sangat ingin menangis, agar aku lelah, lalu dapat memejamkan mata hingga esok tiba. Tapi aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa.
Malam berikutnya, lubang itu semakin menjadi-jadi. Perih di kakiku semakin terasa.
Lalu aku bertekad.
KETIKA LUKA DI KAKIKU INI MENGERING, MAKA LUKA DI HATIKU JUGA IKUT MENGERING.
Aku meyakininya, karena aku percaya pada kekuatan hatiku sendiri. Memangnya kau pikir apalagi yang bisa aku percaya ?
Hari pertama dan kedua hidup dengan lubang di hati, BURUK SEKALI. Aku belum terbiasa untuk tidak bercerita kepadamu. Setiap melihat hal unik atau apapun dimanapun, selalu kamu yang aku ingat. Aku selalu ingin menceritakan apa yang aku lihat kepadamu. Bagaimana bisa aku menyangkal kalau aku terlalu bergantung padamu?
Hari ketiga. Luka itu MENGHITAM. Luka di hatiku dan luka di kakiku. Aku merasa marah. Benci. Aku benci semuanya (tentu kamu tahu, apa yang aku maksud dengan ‘semuanya’). Aku marah karena aku harus menelan bulat-bulat apa yang aku katakan tentang KEPERCAYAAN. Aku ingat sekali saat kamu mengatakan cintamu, sayangmu, dan seluruh perlakuan lembutmu padaku. Dan aku sangat ingin meludahinya. Aku benar-benar marah dan benci kamu saat itu. Aku benci kenapa cerita klise ini harus terjadi padaku. Aku benci kenapa harus kamu yang melakukan ini padaku. Aku benci. Benar-benar benci.
Aku menyadari satu hal. KAMU adalah orang yang aku cintai dengan tulus. Dan aku tak pernah setengah hati padamu. Mungkin karena itu pula mudah bagiku membencimu. Membenci kamu yang sudah melubangi hatiku. Kamu ingat pepatah ini kan ? perbedaan benci dan cinta itu tipis.
Hari keempat. Aku menemukan orang yang benar-benar tepat untuk tempat bercerita. Dia tahu persis apa masalah kita. Sedikit meringankan bebanku. Lubang itu masih ada, sakit itu masih terasa. Tapi hitam itu mulai memudar.
Namun semuanya masih sama. Selalu kamu yang menjadi topik pembicaraan dan pikiranku. Masih kamu.
Hari kelima, aku sudah tidak ingin membicarakan kamu lagi. Apa hitam itu kembali ?
Tidak.
Cukup sudah bagiku untuk mengenang kamu. Mengenang semua tentang kamu dan aku. Dunia kita, tak mungkin terwujud. Kusimpan semua kenangan itu dengan rapi, dan aku menyegelnya dengan tulisan ini di diary-ku.
"Hari ini aku sudah bisa benar-benar mengikhlaskan ***. Semoga aku konsisten. Aku tersenyum, tulus. Aku senang tahu kalau dia bahagia.
Baru kali ini aku setuju kalau cinta tak harus memiliki.
Baru kali ini aku setuju kalau cinta adalah bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, walau kita tidak ada di sampingnya, dan bukan kita yang membuatnya bahagia.
Selamat tinggal **, berbahagialah. :)"
Ya, aku sudah memaafkan kamu.
Tetaplah jadi sahabatku, tetaplah menjadi tempat aku bertanya, dan tetaplah menjadi pendengarku yang baik. :)
PS : tolong kabari aku kalau kamu sudah membaca tulisan ini.
Tampilkan postingan dengan label my scrap book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my scrap book. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 Agustus 2010
Selasa, 06 Juli 2010
Ini Untukmu!
Hey kau!
Kawanku yang paling aneh sedunia
Apa kabarmu sekarang ? Sudah lama sekali kita ga bertemu
Hahahaha. Tentu aja pertanyaan tadi cuma basa-basi
Aku selalu mengikuti kabarmu, kawan.
Heran?
Apa kamu lupa dengan facebook ? You can know everything from that.
Aku tahu apa yang sedang kamu lakukan lewat statusmu.
Aku tahu dengan siapa kamu mengobrol lewat wall-to-wall mu yang muncul di news feed ku, atau komen-komen di statusmu dan status orang lain.
Kamu marah?
Salahin aja si Mark Zuckenberg atau siapa itu bosnya Facebook. Salahin juga diri kamu sendiri karena punya facebook.
Eh, tapi tunggu. Aku tidak pernah dengan sengaja membuka profil kamu untuk tahu activities kamu. Setidaknya bukan kamu yang profilnya aku buka. Jangan ge-er ya.
Hey, kawan,
Kita dulu lumayan dekat ya.
Sebelum jauh seperti sekarang tentunya. Sebelum kamu kenal mereka-mereka itu.
Apa ? Aku cemburu ?
Bukan. Bukan !
Sudah kubilang jangan ge-er!
Memang aku sempat syok waktu kamu punya pacar, tapi toh aku biasa saja akhirnya!
Hey, tau nggak ? itu membuatku sadar lho, bahwa kamu juga normal. Hahaha
Hey kawan, aku mau bikin pengakuan nih,
Kamu duduk saja di situ, dengar baik-baik. Jangan potong kata-kataku ya.
Jujur, aku nggak pernah menginginkan kamu buat jadi milikku. Suer. Buatku kamu itu ya teman. Sahabat. Saudara.
Tapi, setiap ada yang dekat sama kamu, aku merasa nggak enak.
Aku selalu ingin tahu obrolan kalian. Aku selalu mengintip komen status kalian, atau wall-to-wall kalian.
Tidak, tidak. Aku tidak sakit.
Kalau aku ‘sakit’, tentunya obrolan semua orang aku ingin tahu dong. Tapi ini enggak. Cuma KAMU dan DIA.
Kawan,
Aku ingin minta maaf padamu.
Aku hanya ingin kamu tetap seperti ini. Tetap seperti yang aku kenal.
Aku tak punya rasa ingin memilikimu, tapi kenapa aku tak rela kalau orang lain memilikimu ?
Maaf kawan, aku sendiri tak tahu jawabannya.
Pengakuanku selesai. Jangan kerutkan dahimu seperti itu.
Apa aku masih tetap temanmu?
Oke. Terimakasih telah mengangguk. :)
Kawanku yang paling aneh sedunia
Apa kabarmu sekarang ? Sudah lama sekali kita ga bertemu
Hahahaha. Tentu aja pertanyaan tadi cuma basa-basi
Aku selalu mengikuti kabarmu, kawan.
Heran?
Apa kamu lupa dengan facebook ? You can know everything from that.
Aku tahu apa yang sedang kamu lakukan lewat statusmu.
Aku tahu dengan siapa kamu mengobrol lewat wall-to-wall mu yang muncul di news feed ku, atau komen-komen di statusmu dan status orang lain.
Kamu marah?
Salahin aja si Mark Zuckenberg atau siapa itu bosnya Facebook. Salahin juga diri kamu sendiri karena punya facebook.
Eh, tapi tunggu. Aku tidak pernah dengan sengaja membuka profil kamu untuk tahu activities kamu. Setidaknya bukan kamu yang profilnya aku buka. Jangan ge-er ya.
Hey, kawan,
Kita dulu lumayan dekat ya.
Sebelum jauh seperti sekarang tentunya. Sebelum kamu kenal mereka-mereka itu.
Apa ? Aku cemburu ?
Bukan. Bukan !
Sudah kubilang jangan ge-er!
Memang aku sempat syok waktu kamu punya pacar, tapi toh aku biasa saja akhirnya!
Hey, tau nggak ? itu membuatku sadar lho, bahwa kamu juga normal. Hahaha
Hey kawan, aku mau bikin pengakuan nih,
Kamu duduk saja di situ, dengar baik-baik. Jangan potong kata-kataku ya.
Jujur, aku nggak pernah menginginkan kamu buat jadi milikku. Suer. Buatku kamu itu ya teman. Sahabat. Saudara.
Tapi, setiap ada yang dekat sama kamu, aku merasa nggak enak.
Aku selalu ingin tahu obrolan kalian. Aku selalu mengintip komen status kalian, atau wall-to-wall kalian.
Tidak, tidak. Aku tidak sakit.
Kalau aku ‘sakit’, tentunya obrolan semua orang aku ingin tahu dong. Tapi ini enggak. Cuma KAMU dan DIA.
Kawan,
Aku ingin minta maaf padamu.
Aku hanya ingin kamu tetap seperti ini. Tetap seperti yang aku kenal.
Aku tak punya rasa ingin memilikimu, tapi kenapa aku tak rela kalau orang lain memilikimu ?
Maaf kawan, aku sendiri tak tahu jawabannya.
Pengakuanku selesai. Jangan kerutkan dahimu seperti itu.
Apa aku masih tetap temanmu?
Oke. Terimakasih telah mengangguk. :)
The Power of "I'll be back"
Minggu, 4 Juli 2010
Bicara cinta, memang nggak pernah ngebosenin.
Apalagi jika kita sudah memulai suatu hubungan. Yang namanya cemburu, marah-marahan, romantis-romantisan, pasti selalu ada.
Hanya untuk hal yang sepele, seperti wall atau komen di facebook, bisa menyulut prahara.
Nggak dibales smsnya, juga bisa jadi marahan.
Atau yang lebih sederhana lagi, si pacar bales sms dengan nada agak ketus. Bisa bikin ngambek tuh. Padahal bisa jadi si pacar lagi ngantuk atau sibuk.
Kepercayaan dalam hubungan itu penting, dan yang membangun kepercayaan adalah KOMUNIKASI.
Hubungan tanpa komunikasi, ga bakalan jadi. Bubar deh.
Kemarin, saya bĂȘte banget ga jelas gara-gara si pacar ga bales sms-sms saya.
Dia lagi liburan gitu cing ama keluarganya. Saya berusaha maklum, tapi gejolak remaja saya nggak terima kalo kenyataannya dia lagi asyik sendiri di sana dan lupa sama saya yang kesepian dan mati gaya di rumah.
Akhirnya saya bilang sama dia, saya nggak akan mulai sms dia duluan. Saya tunggu sampe dia sms. Eh udah seharian juga dia ga sms. Tambah gondok.
Akhirnya saya ganti ‘lupain’ dia dulu tadi malam sampai siang ini.
Sampai sebuah wall facebook dari dia, yang singkat, ga jelas, tapi manis.
“I’ll be back!!!”
Saya ga peduli kalo saya norak, lebay, atau plin plan.
Yang jelas, malam ini saya tersenyum, menyadari kalau saya memang sayang sama dia, dan memutuskan untuk mengirim private message “I do love you. :)”.
Bicara cinta, memang nggak pernah ngebosenin.
Apalagi jika kita sudah memulai suatu hubungan. Yang namanya cemburu, marah-marahan, romantis-romantisan, pasti selalu ada.
Hanya untuk hal yang sepele, seperti wall atau komen di facebook, bisa menyulut prahara.
Nggak dibales smsnya, juga bisa jadi marahan.
Atau yang lebih sederhana lagi, si pacar bales sms dengan nada agak ketus. Bisa bikin ngambek tuh. Padahal bisa jadi si pacar lagi ngantuk atau sibuk.
Kepercayaan dalam hubungan itu penting, dan yang membangun kepercayaan adalah KOMUNIKASI.
Hubungan tanpa komunikasi, ga bakalan jadi. Bubar deh.
Kemarin, saya bĂȘte banget ga jelas gara-gara si pacar ga bales sms-sms saya.
Dia lagi liburan gitu cing ama keluarganya. Saya berusaha maklum, tapi gejolak remaja saya nggak terima kalo kenyataannya dia lagi asyik sendiri di sana dan lupa sama saya yang kesepian dan mati gaya di rumah.
Akhirnya saya bilang sama dia, saya nggak akan mulai sms dia duluan. Saya tunggu sampe dia sms. Eh udah seharian juga dia ga sms. Tambah gondok.
Akhirnya saya ganti ‘lupain’ dia dulu tadi malam sampai siang ini.
Sampai sebuah wall facebook dari dia, yang singkat, ga jelas, tapi manis.
“I’ll be back!!!”
Saya ga peduli kalo saya norak, lebay, atau plin plan.
Yang jelas, malam ini saya tersenyum, menyadari kalau saya memang sayang sama dia, dan memutuskan untuk mengirim private message “I do love you. :)”.
Langganan:
Postingan (Atom)